Dari Dompet ke Smartphone: Seberapa Cashless Masyarakat Kota Malang?

Afifah

Afifah

Contributor

04 September 2026
4 min baca
3 dilihat
Ai-teknologi-keuangan

Perubahan Cara Masyarakat Malang Menggunakan Uang

Perkembangan teknologi finansial perlahan mengubah kebiasaan masyarakat Kota Malang dalam melakukan transaksi. Uang tunai yang selama bertahun-tahun menjadi alat pembayaran utama kini mulai berdampingan dengan berbagai teknologi pembayaran digital. Smartphone tidak lagi hanya digunakan untuk komunikasi dan hiburan, tetapi juga menjadi perangkat untuk mengakses rekening bank, dompet digital, dan berbagai layanan pembayaran.

Perubahan tersebut membuat transaksi menjadi semakin praktis. Masyarakat dapat membayar makanan, berbelanja, membeli tiket, hingga membayar sejumlah layanan publik tanpa harus membawa uang tunai. Fenomena ini menjadi salah satu tanda berkembangnya ekosistem cashless di Kota Malang, meskipun penggunaan uang fisik belum sepenuhnya ditinggalkan.

QRIS Menjadi Infrastruktur Pembayaran Digital

Salah satu teknologi yang paling berperan dalam perubahan tersebut adalah Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Dengan QRIS, satu kode QR dapat digunakan untuk menerima pembayaran dari berbagai aplikasi pembayaran yang mendukung standar tersebut. Dari sisi konsumen, prosesnya cukup sederhana: membuka aplikasi pembayaran, memindai kode QR, memasukkan nominal, kemudian mengonfirmasi transaksi.

Penggunaan teknologi ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan di Malang. Pada Maret 2026, transaksi QRIS di wilayah kerja Bank Indonesia Malang meningkat 182 persen dibandingkan Maret 2025. Nilai transaksi mencapai Rp2,13 triliun, dengan Kota Malang menyumbang sekitar Rp1,27 triliun. Dari sekitar 28 juta transaksi, sekitar 20 juta transaksi berasal dari Kota Malang.

Smartphone Mulai Menggantikan Fungsi Dompet

Pertumbuhan pembayaran digital membuat smartphone memiliki fungsi baru dalam kehidupan finansial masyarakat. Satu perangkat dapat digunakan untuk menyimpan akses ke rekening bank, dompet digital, melakukan pembayaran, dan memeriksa riwayat transaksi. Kondisi ini membuat kebutuhan membawa uang tunai dalam jumlah besar semakin berkurang, terutama untuk masyarakat yang sudah terbiasa dengan layanan digital.

Perubahan tersebut juga terlihat pada sektor pariwisata. Pemerintah Kota Malang bersama Bank Indonesia telah memperkenalkan pembayaran QRIS untuk tiket masuk kawasan Kayutangan Heritage. Integrasi pembayaran digital dengan destinasi wisata menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya digunakan dalam aktivitas perdagangan, tetapi juga mulai menjadi bagian dari pengalaman wisata di kota.

Pasar Tradisional Ikut Masuk Ekosistem Digital

Digitalisasi pembayaran tidak hanya terjadi di pusat perbelanjaan, restoran, atau bisnis yang sejak awal sudah dekat dengan teknologi. Pasar tradisional juga mulai beradaptasi. Pada April 2026, digitalisasi transaksi melalui QRIS diperkenalkan di Pasar Sawojajar, disertai edukasi kepada pedagang mengenai penggunaan pembayaran nontunai. 

Masuknya teknologi pembayaran ke pasar tradisional menjadi penting karena memperluas jangkauan ekosistem cashless. Pedagang dapat menerima pembayaran melalui smartphone tanpa harus menyediakan berbagai metode pembayaran secara terpisah. Di sisi konsumen, kondisi tersebut memberikan alternatif ketika tidak membawa uang tunai. Dalam jangka panjang, semakin banyak merchant yang menerima pembayaran digital dapat membuat transaksi cashless semakin menjadi kebiasaan.

Digitalisasi Tidak Berhenti pada Konsumen

Transformasi pembayaran di Malang ternyata juga terjadi pada sistem keuangan pemerintah. Pemerintah Kota Malang telah memperluas penggunaan berbagai kanal pembayaran digital, termasuk QRIS, EDC, mobile banking, e-retribusi, dan platform fintech. Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung pembayaran pajak, retribusi, serta sejumlah layanan pemerintah.

Digitalisasi bahkan digunakan untuk memantau transaksi dan penerimaan daerah secara lebih cepat. Sistem Persada memungkinkan pemerintah memantau transaksi dan penerimaan pajak secara real time. Sementara itu, teknologi seperti UE Reader digunakan untuk mendukung transaksi retribusi parkir dan EDC digunakan dalam retribusi pasar. 

Dari Transaksi Digital Menuju Ekonomi Berbasis Data

Ada perubahan yang lebih besar di balik penggunaan pembayaran digital. Ketika seseorang membayar menggunakan QRIS, mobile banking, atau dompet digital, transaksi tersebut meninggalkan jejak elektronik. Data transaksi dapat membantu pelaku usaha melakukan pencatatan keuangan, sementara pemerintah dapat menggunakannya untuk memantau penerimaan dan meningkatkan transparansi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi pembayaran bukan sekadar mengganti uang kertas dengan kode QR. Di belakang transaksi yang berlangsung beberapa detik terdapat sistem digital yang menghubungkan konsumen, merchant, perbankan, penyedia layanan pembayaran, hingga pemerintah. Semakin luas penggunaannya, semakin besar pula peran data dalam pengelolaan aktivitas ekonomi.

Apakah Kota Malang Sudah Cashless?

Melihat pertumbuhan transaksi digital, Kota Malang memang bergerak menuju masyarakat yang semakin cashless. Namun, hal tersebut tidak berarti uang tunai akan langsung menghilang. Sebagian masyarakat masih bergantung pada uang fisik karena faktor kebiasaan, akses teknologi, koneksi internet, maupun tingkat literasi digital.

Karena itu, kondisi Malang lebih tepat disebut sebagai peralihan menuju ekosistem cashless. Teknologi secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap uang tunai, sekaligus menciptakan cara baru dalam melakukan dan mencatat transaksi. Smartphone pun semakin menyerupai dompet: bukan hanya tempat mengakses uang, tetapi juga pintu masuk menuju ekosistem finansial digital.


Referensi

Tags
Kota Malang cashless QRIS pembayaran digital teknologi finansial
Link berhasil disalin ke clipboard!
๐Ÿ‘‹ Tanya AI Kami!
Kembali ke Atas
Chat WhatsApp
Chat Bot

Asisten GL++

Online 24/7
GL-Bot

Halo! ๐Ÿ‘‹ Saya asisten virtual GL++. Ada yang bisa saya bantu tentang software akuntansi dan layanan kami?

17:33