Ketika mendengar kata automasi, banyak orang langsung membayangkan mesin, robot, atau kecerdasan buatan yang mengambil alih pekerjaan manusia. Kekhawatiran tersebut sebenarnya bukan tanpa alasan. Perkembangan teknologi memang membuat sejumlah pekerjaan dan tugas yang sebelumnya dilakukan manusia dapat dikerjakan oleh sistem secara otomatis.
Namun, automasi tidak selalu berarti bahwa manusia akan kehilangan pekerjaannya. Dalam banyak kasus, teknologi justru mengubah cara sebuah pekerjaan dilakukan. Alih-alih menggantikan seluruh peran manusia, automasi mengambil alih sebagian tugas sehingga pekerja dapat berfokus pada pekerjaan yang membutuhkan kemampuan manusia.
Automasi Lebih Sering Menggantikan Tugas, Bukan Seluruh Pekerjaan
Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai automasi adalah menganggap pekerjaan sebagai satu aktivitas yang utuh. Padahal, sebuah pekerjaan biasanya terdiri dari banyak tugas yang berbeda.
Seorang staf administrasi, misalnya, mungkin harus memasukkan data, membuat laporan, memeriksa dokumen, berkomunikasi dengan pelanggan, dan mengambil keputusan tertentu. Sistem otomatis dapat mengambil alih proses input data dan pembuatan laporan, tetapi belum tentu mampu menggantikan seluruh aktivitas lainnya.
Hal inilah yang membuat dampak teknologi terhadap pekerjaan menjadi lebih kompleks. Penelitian International Labour Organization (ILO) mengenai generative AI menunjukkan bahwa teknologi tersebut lebih berpotensi melengkapi pekerjaan manusia (augmentation) dibandingkan menghilangkan pekerjaan secara keseluruhan. Sebagian besar pekerjaan hanya memiliki sebagian tugas yang dapat diotomatisasi.
Dengan demikian, pertanyaan yang lebih tepat bukan “pekerjaan apa yang akan digantikan teknologi?”, melainkan “bagian mana dari pekerjaan yang dapat dilakukan teknologi dengan lebih efisien?”
Automasi Dapat Membuat Pekerja Lebih Produktif
Tujuan perusahaan menerapkan automasi pada dasarnya bukan selalu untuk mengurangi jumlah pekerja. Salah satu alasan utamanya adalah meningkatkan produktivitas.
Pekerjaan repetitif seperti memasukkan data, mengelompokkan dokumen, membuat laporan rutin, atau memproses transaksi dapat menghabiskan banyak waktu apabila dilakukan secara manual. Ketika sebagian proses tersebut diotomatisasi, pekerja dapat menggunakan waktunya untuk aktivitas yang memberikan nilai lebih besar.
Survei OECD bahkan menemukan bahwa empat dari lima pekerja yang menggunakan AI mengatakan bahwa teknologi tersebut meningkatkan performa mereka dalam pekerjaan. Tiga dari lima pekerja juga melaporkan bahwa AI meningkatkan kenikmatan mereka dalam bekerja.
Artinya, teknologi dapat berfungsi sebagai alat bantu. Pekerja tidak selalu menjadi pihak yang berhadapan dengan teknologi, tetapi justru dapat menjadi pihak yang menggunakan teknologi untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan efektif.
Pekerjaan Manusia Justru Dapat Bergeser ke Aktivitas yang Lebih Bernilai
Ketika tugas rutin berkurang, kebutuhan terhadap kemampuan lain dapat meningkat. Pekerja mungkin perlu lebih banyak melakukan analisis, pengambilan keputusan, komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah, atau pengelolaan teknologi.
OECD menemukan bahwa pada pekerjaan yang sangat terekspos terhadap AI, kemampuan seperti manajemen dan bisnis menjadi semakin penting. Kemampuan emosional, sosial, digital, kognitif, dan bahasa juga menunjukkan peningkatan permintaan dalam berbagai pekerjaan yang terdampak AI.
Perubahan ini menunjukkan bahwa automasi tidak hanya mengubah berapa banyak pekerjaan yang dilakukan manusia, tetapi juga jenis pekerjaan yang dilakukan manusia.
Seorang pekerja yang sebelumnya menghabiskan sebagian besar waktunya membuat laporan manual, misalnya, dapat beralih menjadi orang yang menganalisis hasil laporan tersebut. Teknologi mengerjakan proses pengumpulan dan pengolahan data, sementara manusia menggunakan informasi tersebut untuk menentukan tindakan bisnis.
Tetapi Automasi Tetap Dapat Menghilangkan Sebagian Pekerjaan
Mengatakan bahwa automasi tidak selalu menggantikan pekerja bukan berarti mengatakan bahwa tidak ada pekerjaan yang akan terdampak.
Beberapa pekerjaan memang memiliki tugas yang sangat rutin dan terstruktur sehingga lebih mudah diotomatisasi. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan bahwa perubahan teknologi, termasuk robotika dan sistem otonom, akan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan perpindahan pekerjaan. Di sisi lain, teknologi juga diperkirakan menciptakan pekerjaan baru.
Bahkan, WEF memperkirakan bahwa pada 2030 proporsi pekerjaan yang dilakukan sepenuhnya oleh manusia, sepenuhnya oleh teknologi, dan melalui kolaborasi manusia-teknologi akan semakin mendekati keseimbangan.
Karena itu, dampak automasi tidak dapat dilihat hanya dari jumlah pekerjaan yang hilang. Perlu dilihat pula pekerjaan baru yang muncul, perubahan tugas dalam pekerjaan lama, serta kemampuan yang dibutuhkan pekerja untuk beradaptasi.
Masa Depan Pekerjaan: Manusia dan Teknologi
Pada akhirnya, automasi bukan sekadar persoalan apakah teknologi akan menggantikan manusia. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana manusia dan perusahaan merancang hubungan antara keduanya.
Perusahaan yang menerapkan automasi secara strategis dapat menggunakan teknologi untuk menangani pekerjaan yang repetitif, sementara manusia tetap memegang peran dalam keputusan, kreativitas, komunikasi, dan aktivitas yang membutuhkan pemahaman konteks.
Bagi pekerja, perubahan ini juga berarti bahwa kemampuan untuk beradaptasi menjadi semakin penting. Menguasai teknologi tidak selalu berarti harus menjadi ahli AI atau programmer. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan pekerjaan yang sudah dilakukan.
Jadi, automasi tidak selalu berarti “manusia versus mesin”. Dalam banyak situasi, masa depan pekerjaan justru lebih mungkin menjadi manusia bersama mesin. Teknologi mengambil alih tugas tertentu, sementara manusia menggunakan waktu dan kemampuannya untuk melakukan pekerjaan yang tidak mudah digantikan oleh sistem.
Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi akan bekerja menggantikan manusia, tetapi bagaimana manusia dapat bekerja lebih baik dengan bantuan teknologi.
Referensi:
- Gmyrek, P., Berg, J., & Bescond, D. (2023). Generative AI and jobs: A global analysis of potential effects on job quantity and quality (ILO Working Paper 96). International Labour Organization. https://doi.org/10.54394/FHEM8239
- OECD. (2024). Using AI in the workplace: Opportunities, risks and policy responses (OECD Artificial Intelligence Papers No. 11). OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/73d417f9-en
- Green, A. (2024). Artificial intelligence and the changing demand for skills in the labour market (OECD Artificial Intelligence Papers No. 14). OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/88684e36-en
- OECD. (2024). How is AI changing the way workers perform their jobs and the skills they require? OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/8dc62c72-en
- World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. World Economic Forum.